Beberapa hari berlalu di Oozora Gakuen, lebih tepatnya seminggu kemudian setelah kejadian yang dialami Avaron hari Jum'at lalu, pertemuannya dengan Kaze Fujisaki, teman sekelasnya, dan juga rencana yang agak licik dari teman kembarnya yang pada akhirnya ia mendapatkan kontak Kaze Fujisaki dengan wajah yang memerah padam karena perbuatan kedua temannya itu.
Tapi sepertinya Avaron tidak pernah berbicara dengan Kaze walaupun mereka sekelas dan Avaron menyimpan kontak Kaze di handphonenya. Sepertinya ia terlalu malu untuk berbicara dengannya, secara ia menjadi ingat dengan kejadian itukalau melihat wajah Kaze dan mukanya menjadi merah, walaupun bukan merah padam saat melihat Kaze.
Oozora Gakuen, tepatnya pada saat pelajaran terakhir di kelas 1-B. Avaron kembali telat masuk ke kelas untuk mengikuti pelajaran terakhir di hari itu. Tapi kali ini berjalan tanpa semangat menuju kelasnya karena niatnya untuk membolos muncul kembali, dan sepertinya niatnya kali ini lebih kuat dari yang sebelumnya.
Apa aku membolos saja ya...? Avaron menghela nafas. Tapi kalau aku membolos.. Sepertinya nanti aku akan mendapat hukuman... Avaron mulai ragu, ingi mengikuti keinginannya untuk membolos atau tetap masuk gar tidak mendapat hukuman.
Hampir sampai ke kelas, ia melihat orang yangsepertinya familiar, anak laki-laki berambut hitam di depan pintu kelasnya. Avaron berjalan mendekati anak itu, merasa pernah melihatnya di suatu tempat, tanpa pikir panjang ia bertanya ke arah anak itu secara tiba-tiba, "Ano... Sedang apa...?"
Secara langsung anak laki-laki itu kaget, berbalik dan dengan segera membungkam mulut Avaron dengan tangannya, membuat Avaron hampir tidak bisa bernafas dan juga membuat wajahnya memerah karena wajah anak laki-laki itu yang ternyata adalah Kaze Fujisaki terlihat oleh Avaron.
Kaze melihat ke sekeliling, sepertinya ia cemas akan sesuatu. Setelah melihat ke sekeliling ia seperti merasa lega, Untung saja tidak ada yang melihat. Sepertinya ia hampir lupa dengan Avaron.
Sementara itu Avaron diam saja, mencoba untuk tenang, sampai Kaze sadar kalau ia masih membungkam mulut Avaron dengan tangannya. Dengan cepat Kaze melepaskan Avaron, "M-maaf." Ucapnya.
Avaron hanya diam untuk beberapa saat, mencoba mengatur nafasnya, kemudian ia melihat ke arah Kaze, "Ya... Tidak apa-apa." Ucapnya dengan senyum, masih mencoba untuk mengatur nafasnya. "Sedang apa di depan pintu kelas?"
Mendengar Avaron bertanya seperti itu, Kaze langsung menutup mulut Avaron kembali, dengan tangannya, "Jangan bicara kencang-kencang... Nanti ketahuan..." Ucapnya berbisik. Avaron hanya bisa mengangguk untuk membalas ucapan Kaze, dan pada akhirnya Kaze melepaskan Avarn, membuat Avaron mencoba untuk mengatur nafasnya lagi. "Maaf..." Ucap Kaze dengan pelan.
"Ya... Tidak apa-apa.." Balas Avaron yang menjadi sweatdrop. "Lalu... Kau sedang apa? Berniat untuk membolos?" Avaron bertanya dengan pelan agar mulutnya tidak dibungkam lagi oleh Kaze. Tapi sepertinya wajah Avaron sudah tidak memerah lagi.
Kaze menghela nafas, "Ya... Begitulah... Aku tidak suka pelajaran Bahasa Inggris." Balasnya, menatap Avaron. "Bagaimana denganmu? Kau terlihat tidak semangat masuk."
"Ah... Ya... Aku hanya tidak suka dengan gurunya." Avaron membalas, niatnya untuk membolos semakin besar, kemudian tanpa sadar ia mengucapkan sesuatu, "Bagaimana kalau kita membolos bersama-sama...?"
"Hm... Boleh juga..." Kaze membalas dengan singkat, dan juga dengan senyum, membuat Avaron yang melihat wajah Kaze memerah lagi. Sepertinya Avaron tidak akan pernah melupakan kejadian waktu itu.
"Lalu... Kita mau kemana...?" Aaron bertanya, mengalihkan pandangannya dari wajah Kaze, tetapi wajahnya masih memerah.
"Ya... Kema saja asal tidak di sini." Kaze membalas dengan senyum dan juga agak sweatdrop karena ia juga tidak tahu mau kemana. Ia mulai berjalan keluar dari gedung bagian Barat, dan juga berjalan keluar sekolah, diikuti Avaron di belakangnya.
Mereka pergi meninggalkan sekolah, berhasil membolos pelajaran terkahir di hari itu dan mereka sampai di taman.
"Sepertinya kita berhasil membolos tanpa ketahuan..." Ucap Avaron agak pelan. Baru kali ini ia membolos pelajaran di sekolahnya. Semoga nanti tidak mendapat masalah... Ia agak cemas karena sudah membolos.
"Ya begitulah. Tapi kita masih memakai seragam sekolah." Ucap Kaze, melihat ke arah Avaron yang memakai seragam lengkap. Akhirnya Kaze, yang saat itu memakai jaket berwarna coklat, melepas jaketnya dan memberikannya ke Avaron, "Coba pakai ini..."
Avaron terlihat agak bingung, "Aku?? Untuk apa??" Tanyanya, menerima jaket itu.
"Pakai saja. Kau tidak mau terlihat seperti anak sekolah kan?" Kaze membalas dengan santai.
"Oh... Baiklah..." Gumam Avaron, memakai jaketnya.
Sementara itu Kaze melepas bajunya tepat-di-depan-Avaron, membuat Avaron agak terkejut. Ternyata Kaze sudah memakai kaos lagi dan membuat Avaron yang tadi terkejut menjadi sweatdrop.
"Sepertinya kau sudah sangat siap untuk membolos." Ucap Avaron yang agak sweatdrop.
"Tentu saja." Kaze membalas dengan singkat, dengan senyumannya. "Jadi... Sekarang kita mau ngapain lagi...?" Ucap Kaze pelan, melihat ke sekeliling taman.
Avaron tidak menjawab pertanyaan Kaze, ia berjalan mendekati Kaze, "Ng... Kalau boleh bertanya... Kenapa kau bisa masuk Oozora Gakuen?" Pertanyaan yang jarang diucapkan oleh Avaron diberikan kepada Kaze.
"......" Kaze diam untuk beberapa saat mendengar pertanyaan Avaron, membuat Avaron memunculkan beberapa tanda tanya di kepalanya. "Karena sebuah kecerobohan." Ucap Kaze, terdengar tidak meyakinkan.
"Yang benar?" Avaron bertanya, mendekatkan wajahnya denga wajah Kaze. Kali ini wajah Kaze yang memerah karena perbuatan Avaron.
Kaze berjalan agak menjauhi Avaron, "Y-ya hanya karena kecerobohan saja." Ucapnya dengan senyum yang terlihat innocent. Membuat Avaron semakin tidak yakin dengan jawaban yang diberikan oleh Kaze.
Avaron berjalan mendekati Kaze, memberikan pertanyaan yang sama, "Yang benar?" Kali ini nada bicaranya benar-benar terdengar tidak yakin, atau mungkin tidak puas dengan jawaban Kaze. "Tidak mungkin hanya karena kecerobohan kau sampai masuk ke Oozora Gakuen, benar?" Tambahnya, dengan senyum yang terlihat sangat polos.
"....." Kaze diam saja mendengar ucapan Avaron yang masuk akal. Tidak mungkin hanya karena kecerobohan ia sampai masuk ke Oozora Gakuen. "Ya... Karena suatu hal yang bisa di bilang..." Nada bicara Kaze menjadi semakin kecil, "Memalukan..."
Avaron hampir tidak bisa mendengar ucapan Kaze, "Ng... Ya sudahlah... Lupakan pertanyaanku tadi." Ucapnya. Sepertinya Avaron masih penasaran dengan alasan Kaze sampai masuk ke Oozora, karena menurutnya Kaze adalah anak yang baik-baik saja.
"Bagaimana denganmu? Bagaimana kau bisa masuk Oozora?" Kaze memberikan pertanyaan yang sama kepada Avaron.
"Ah.. Itu..." Sepertinya Avaron ragu untuk memberitahu, "Mungkin bisa dibilang... Karena sebuah 'kesalah pahaman'." Ucapnya, dengan senyum yang innocent.
"Kesalah pahaman?"
"Ya... Kesalah pahaman..." Nada bicara Avaron kali ini terdengar agak serius, dan agak down.
- To be Continue
Ok!! Maap akherannya kea gini!! Keanya gw perlu mencari ide lg. So~ Sampe sini dl ceritanya~ maap klo singkat banget~ ^-^v
skip to main |
skip to sidebar
Showing posts with label Little Love Story. Show all posts
Showing posts with label Little Love Story. Show all posts
Tuesday, April 6, 2010
Saturday, March 27, 2010
Little Love Story, Chapter 2 – Contacts
Chapter 2 – Contacts
Shinny park, entah kenapa taman di kota itu dinamakan dengan nama Shinny park. Mungkin karena di taman itu terkadang terlihat sangat terang pada saat siang hari, sementara pada pagi atau sore hari udara di taman itu sangat sejuk, dan di malam hari udaranya bisa menjadi sangat dingin.
Terlihat sudah ada seseorang di taman itu, seorang gadis berambut panjang yang berwarna biru gelap mendekati warna hitam dan memakai gelang berwarna ungu gelap, hampir seperti hitam. Sepertinya gadis itu sedang menunggu seseorang. Tidak lama kemudian seorang gadis lagi dengan cirri-ciri yang sama tapi dengan warna gelang yang berbeda, warna putih atau lebih tepatnya silver. Sepertinya mereka berdua anak kembar identik.
“Hei… Maaf… Sudah lama menunggu?” Gadis dengan gelang warna silver itu bertanya dan meminta maaf.
Gadis dengan gelang ungu gelap itu hanya mengangguk, “Ya… Tidak apa-apa. Lagipula kita juga mau bertemu dengan seseorang.” Ucapnya.
“Ya… benar juga…” Balas gadis yang satunya lagi.
Sepertinya mereka sedang menunggu seseorang. Sahabat atau musuh? Atau orang yang penting bagi mereka? Yang pasti mereka sedang menunggu seseorang di taman itu.
Sementara di jalan, agak jauh dari taman, seorang gadis berambut coklat yang kita kenal sebagai Avaron, masih berjalan tanpa tujuan. Ia mengambil handphonenya dan melihat kalau ia mendapat beberapa pesan. “Let’s see…….” Gumamnya, melihat pesan yang diterimanya. “Shinny park? Ok.” Gumamnya lagi, berlari menuju Shinny Park dengan.
Hanya dalam beberapa menit ia sampai di Shinny Park dan melihat kedua gadis kembar itu. “Ah… Hei…! Maaf lama! Sepertinya aku telat dating lagi!” Ucapnya sedkit berteriak ke arah dua gadis itu. Ternyata Avaron orang yang sedang ditunggu kedua gadis itu.
Salah satu dari gadis kembar itu, lebih tepatnya yang memakai gelang berwarna ungu gelap, menghela nafas. “Hh… Ya… kami memaklumi Avaron. Kau selalu telat.” Ucapnya agak dingin
“Ya ya… Aku kan sudah minta maaf.” Avaron membalas dengan senyum innocentnya. “Tapi ngomong-ngomong, apa yang dilakukan oleh Schatten dan Licht Geisterdadt di sini?” Avaron bertanya, melihat ke arah gadis dengan gelang ungu gelap saat mengucapkan nama Schatten, dan melihat ke arah gadis dengan gelang silver saat mengucapkan nama Licht.
Geisterdadt, nama keluarga yang sedikit aneh untuk orang Jepang. Mungkin kedua gadis kembar itu bukan keturunan asli Jepang dan dari nama mereka bisa ditebak kalau mereka keturunan orang Jerman.
“Kami hanya ingin bertemu denganmu. Lagipula kita sudah lama tidak bertemu kan?” Licht, gadis dengan gelang berwarna silver menjawab dengan jawaban yang disertai pertanyaan.
“Iya juga sih… Tapi baru beberapa bulan tidak bertemu belum bisa dikatakan lama.” Avaron menjawab dengan sedikit ragu.
“Ya ya… Mengesampingkan hal itu, kalau kami ingin bertemu denganmu, bagaimana kalau kau memberitahu kami alasan kau terlambat dating.” Ucap Schatten, gadis yang satu lagi. “Kau selalu mempunyai alasan yang bagus untuk terlambat bukan?” Tambahnya, dengan tatapan sedikit mengancam. Sementara Licht hanya bisa diam melihat tatapan yang diberikan Schatten.
Seketika itu juga Avaron menjadi sweatdrop, berfikir apakah ia harus memberitahu alasan mengapa ia terlambat. Tapi karena ia melihat tatapan yang diberikan oleh Schatten yang terlihat menakutkan dan terkesan mengancam, akhirnya Avaron pun memberitahukan alasan ia terlambat dating, dan yang pasti ia memberitahukannya tanpa niat.
Avaron memberitahukan kejadiannya dari awal sampai akhir. Yang dimaksud dengan awal adalah saat ia menabrak seseorang di koridor, dan yang dimaksud dengan akhir adalah kejadian di sungai. Sementara kedua temannya hanya bisa diam mendengar cerita Avaron. Mereka terlihat sedikit tidak percaya dengan cerita Avaron.
“Kalian puas…?” Avaron bertanya, terlihat wajahnye menjadi merah lagi karena menceritakan kejadian yang ia alami bersama seorang laki-laki bernama Kaze Fujisaki di sungai.
Schatten dan Licht menatap satu sama lain untuk beberapa detik. Kemudian secara tiba-tiba mereka mulai tertawa, membuat Avaron yang wajahnya masih memerah menjadi kaget.
“Apa itu benar terjadi padamu Avaron?!” Licht bertanya, ia masih tertawa karena cerita Avaron barusan.
“Sangat tidak terduga Avaron yang kita kenal mengalami hal seperti itu…” Ucap Schatten yang juga masih tertawa, tapi setidaknya ia tertawa kecil.
“Hei! Aku serius!” Avaron membalas, ia terdengar serius dari nada biacaranya. “Memang hal itu tidak pernah terjadi padaku tapi…. Itu memang terjadi tadi.” Tambahnya, berusaha meyakinkan kedua temannya itu.
Reaksi yang didapat Avaron dari kedua temannya masih sama seperti tadi, tidak percaya, walaupun kedua temannya sudah tidak lagi tertawa.
“Baiklah… Kami akan mempercayaimu kalau kau mau menunjukkan yang mana anak berambut hitam dan bernama Kaze Fujisaki itu.” Ucap Schatten, sedikit menggoda. Licht hanya mengangguk, tanda ia setuju dengan dengan ucapan Schatten.
Avaron menjadi terkejut lagi karena kedua temannya ingin melihat orang yang ada di dalam cerita Avaron, seorang anak laki-laki berambut hitam bernama Kaze Fujisaki.
“Hei… Mau merencanakan apa kalian dengan bertemu dengannya?” Avaron bertanya dengan curiga.
Kedua temannya hanya memberikan senyum innocent mereka, “Tidak merencanakan apa-apa kok” Mereka membalas secara bersamaan, semakin menambah rasa curiga Avaron. “Jadi…? Mau mempertemukan kita dengan anak itu, A-va-ron?” Tambah Schatten dan Licht, terdengar sedikit mengancam ketika mereka menyebut nama Avaron.
Mendengar ucapan kedua temannya yang terdengar mengancam, Avaron akhirnya pasrah, memutuskan untuk menunjukkan atau mempertemukan kedua temannya dengan Kaze.
“Kalau begitu… Kita ke sungai.” Ucapnya. Sepertinya sekarang Avaron sudah agak tenang. “Mungkin ia masih ada di sana…” Tambahnya, mulai berjalan menuju taman diikuti Schatten dan Licht dari belakang.
Avaron, Schatten, dan Licht sampai di River Side hanya dalam beberapa menit. Sepertinya di sungai itu masih ada anak laki-laki berambut hitan yang tadi diceritakan oleh Avaron.
“Ah… Ternyata dia masih berada di sana…” Pikir Avaron, sweatdrop karena pada awalnya ia berharap agar anak laki-laki itu sudah pergi atau pulang dari sungai.
“Hooo…. Jadi itu orangnya…” Ucap Licht tiba-tiba, sembari menatap anak laki-laki berambut hitam itu.
“Hm…” Schatten hanya bergumam.
Kemudian kedua anak kembar itu menatap satu sama lain, memberikan perasaan yang tidak enak kepada Avaron yang melihatnya. Kemudian mereka terlihat tersenyum yang sepertinya merencanakan sesuatu. Dan secara tiba-tiba…..
“Hei kau!” Schatten menghampiri anak laki-laki itu, “Namamu Kaze Fujisaki bukan?” Tanyanya
Avaron yang melihat itu hanya bisa speechless, tidak tahu harus berkata apa. Sebenarnya ia ingin menghampiri Schatten dan menyeretnya kembali, tapi ia ditahan oleh Licht dan tidak hampir tidak bisa bergerak.
“Ah… Ya… Memangnya kenapa?” Anak laki-laki itu bertanya.
“Kudengar kau teman sekelas temanku itu” Schatten menunjuk Avaron yang masih ditahan oleh Licht, “Boleh minta…………………….” Schatten berbicara dengan suara yang kecil, yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua, dan sepertinya Kaze memberitahu sesuatu kepada Schatten yang akhirnya ia catat dengan handphonenya.
Perasaan Avaron menjadi semakin tidak enak , tapi mau bagaimana lagi, ia ditahan oleh Licht agar tidak bisa bergerak dan tidak tahu harus mengucapkan kata apa.
“Ok… Thanks.” Schatten berterima kasih karena sesuatu yang diberikan Kaze. Kemudian ia berjalan kembali ke tempat Avaron dan Licht.
Licht melepaskan Avaron sehingga ia bisa bergerak lagi. Tapi dengan segera Avaron bertanya kepada Schatten dengan perasaan amat sangat curiga, “Hei! Apa yang kau minta dari dia?!”
“Hanya……….” Schatten berbisik di telinga Avaron dan mengirimkan sesuatu ke Avaron dengan e-mail melalui handphonenya. “Disimpan ya…” Schatten menyarankan dengan senyum innocentnya, disertai senyum innocent Licht juga.
Sepertinya ‘sesuatu’ yang diberitahukan Schatten membuat wajah Avaron memerah lagi, tapi kali ini merah padam.
“Okay… I'm going home!” Ucap Avaron, berniat untuk kembali ke asrama di Oozora Gakuen. Tapi belum sempat ia berjalan menuju Oozora, ia melihat Kaze yang sepertinya sedari tadi menatapnya. Kaze hanya tersenyum melihat Avaron dan membuat wajah Avaron menjadi semakin merah dan Avaron pun berlari menuju Oozora, lebih tepatnya langsung menuju kamarnya di asrama.
Schatten dan Licht hanya bisa menahan tawa melihat Avaron yang bisa dibilang salah tingkah. “Maaf teman kami memang seperti itu.” Ucap Licht kepada Kaze mengenai Avaron. “Maaf… Kami pergi dulu.” Ucap Schatten. “See ya Fujisaki-san” Ucap Schatten dan Licht bersamaan, kemudian pergi dari tempat itu.
Sementara di Oozora Gaken, tepatnya di asrama lantai 3, dan lebih tepatnya di kamar Avaron dan juga kamar teman sekamarnya.
Avaron sepertinya sudah merapihkan diri dalam arti lain mandi dan sebagainya. Kemudian ia membuka pesan yang tadi dikirimkan oleh Schatten. Ia pun menghela nafas tapi menyimpan isi pesan itu.
“Hh… Schatten… Licht… You’ll pay for this!!” Pikirnya agak kesal dengan wajah yang memerah karena hal tadi. Walaupun ia sepertinya kesal, tapi ia menyimpan juga isi pesan yang ternyata adalah kontak anak bernama Kaze Fujisaki itu.
Shinny park, entah kenapa taman di kota itu dinamakan dengan nama Shinny park. Mungkin karena di taman itu terkadang terlihat sangat terang pada saat siang hari, sementara pada pagi atau sore hari udara di taman itu sangat sejuk, dan di malam hari udaranya bisa menjadi sangat dingin.
Terlihat sudah ada seseorang di taman itu, seorang gadis berambut panjang yang berwarna biru gelap mendekati warna hitam dan memakai gelang berwarna ungu gelap, hampir seperti hitam. Sepertinya gadis itu sedang menunggu seseorang. Tidak lama kemudian seorang gadis lagi dengan cirri-ciri yang sama tapi dengan warna gelang yang berbeda, warna putih atau lebih tepatnya silver. Sepertinya mereka berdua anak kembar identik.
“Hei… Maaf… Sudah lama menunggu?” Gadis dengan gelang warna silver itu bertanya dan meminta maaf.
Gadis dengan gelang ungu gelap itu hanya mengangguk, “Ya… Tidak apa-apa. Lagipula kita juga mau bertemu dengan seseorang.” Ucapnya.
“Ya… benar juga…” Balas gadis yang satunya lagi.
Sepertinya mereka sedang menunggu seseorang. Sahabat atau musuh? Atau orang yang penting bagi mereka? Yang pasti mereka sedang menunggu seseorang di taman itu.
Sementara di jalan, agak jauh dari taman, seorang gadis berambut coklat yang kita kenal sebagai Avaron, masih berjalan tanpa tujuan. Ia mengambil handphonenya dan melihat kalau ia mendapat beberapa pesan. “Let’s see…….” Gumamnya, melihat pesan yang diterimanya. “Shinny park? Ok.” Gumamnya lagi, berlari menuju Shinny Park dengan.
Hanya dalam beberapa menit ia sampai di Shinny Park dan melihat kedua gadis kembar itu. “Ah… Hei…! Maaf lama! Sepertinya aku telat dating lagi!” Ucapnya sedkit berteriak ke arah dua gadis itu. Ternyata Avaron orang yang sedang ditunggu kedua gadis itu.
Salah satu dari gadis kembar itu, lebih tepatnya yang memakai gelang berwarna ungu gelap, menghela nafas. “Hh… Ya… kami memaklumi Avaron. Kau selalu telat.” Ucapnya agak dingin
“Ya ya… Aku kan sudah minta maaf.” Avaron membalas dengan senyum innocentnya. “Tapi ngomong-ngomong, apa yang dilakukan oleh Schatten dan Licht Geisterdadt di sini?” Avaron bertanya, melihat ke arah gadis dengan gelang ungu gelap saat mengucapkan nama Schatten, dan melihat ke arah gadis dengan gelang silver saat mengucapkan nama Licht.
Geisterdadt, nama keluarga yang sedikit aneh untuk orang Jepang. Mungkin kedua gadis kembar itu bukan keturunan asli Jepang dan dari nama mereka bisa ditebak kalau mereka keturunan orang Jerman.
“Kami hanya ingin bertemu denganmu. Lagipula kita sudah lama tidak bertemu kan?” Licht, gadis dengan gelang berwarna silver menjawab dengan jawaban yang disertai pertanyaan.
“Iya juga sih… Tapi baru beberapa bulan tidak bertemu belum bisa dikatakan lama.” Avaron menjawab dengan sedikit ragu.
“Ya ya… Mengesampingkan hal itu, kalau kami ingin bertemu denganmu, bagaimana kalau kau memberitahu kami alasan kau terlambat dating.” Ucap Schatten, gadis yang satu lagi. “Kau selalu mempunyai alasan yang bagus untuk terlambat bukan?” Tambahnya, dengan tatapan sedikit mengancam. Sementara Licht hanya bisa diam melihat tatapan yang diberikan Schatten.
Seketika itu juga Avaron menjadi sweatdrop, berfikir apakah ia harus memberitahu alasan mengapa ia terlambat. Tapi karena ia melihat tatapan yang diberikan oleh Schatten yang terlihat menakutkan dan terkesan mengancam, akhirnya Avaron pun memberitahukan alasan ia terlambat dating, dan yang pasti ia memberitahukannya tanpa niat.
Avaron memberitahukan kejadiannya dari awal sampai akhir. Yang dimaksud dengan awal adalah saat ia menabrak seseorang di koridor, dan yang dimaksud dengan akhir adalah kejadian di sungai. Sementara kedua temannya hanya bisa diam mendengar cerita Avaron. Mereka terlihat sedikit tidak percaya dengan cerita Avaron.
“Kalian puas…?” Avaron bertanya, terlihat wajahnye menjadi merah lagi karena menceritakan kejadian yang ia alami bersama seorang laki-laki bernama Kaze Fujisaki di sungai.
Schatten dan Licht menatap satu sama lain untuk beberapa detik. Kemudian secara tiba-tiba mereka mulai tertawa, membuat Avaron yang wajahnya masih memerah menjadi kaget.
“Apa itu benar terjadi padamu Avaron?!” Licht bertanya, ia masih tertawa karena cerita Avaron barusan.
“Sangat tidak terduga Avaron yang kita kenal mengalami hal seperti itu…” Ucap Schatten yang juga masih tertawa, tapi setidaknya ia tertawa kecil.
“Hei! Aku serius!” Avaron membalas, ia terdengar serius dari nada biacaranya. “Memang hal itu tidak pernah terjadi padaku tapi…. Itu memang terjadi tadi.” Tambahnya, berusaha meyakinkan kedua temannya itu.
Reaksi yang didapat Avaron dari kedua temannya masih sama seperti tadi, tidak percaya, walaupun kedua temannya sudah tidak lagi tertawa.
“Baiklah… Kami akan mempercayaimu kalau kau mau menunjukkan yang mana anak berambut hitam dan bernama Kaze Fujisaki itu.” Ucap Schatten, sedikit menggoda. Licht hanya mengangguk, tanda ia setuju dengan dengan ucapan Schatten.
Avaron menjadi terkejut lagi karena kedua temannya ingin melihat orang yang ada di dalam cerita Avaron, seorang anak laki-laki berambut hitam bernama Kaze Fujisaki.
“Hei… Mau merencanakan apa kalian dengan bertemu dengannya?” Avaron bertanya dengan curiga.
Kedua temannya hanya memberikan senyum innocent mereka, “Tidak merencanakan apa-apa kok” Mereka membalas secara bersamaan, semakin menambah rasa curiga Avaron. “Jadi…? Mau mempertemukan kita dengan anak itu, A-va-ron?” Tambah Schatten dan Licht, terdengar sedikit mengancam ketika mereka menyebut nama Avaron.
Mendengar ucapan kedua temannya yang terdengar mengancam, Avaron akhirnya pasrah, memutuskan untuk menunjukkan atau mempertemukan kedua temannya dengan Kaze.
“Kalau begitu… Kita ke sungai.” Ucapnya. Sepertinya sekarang Avaron sudah agak tenang. “Mungkin ia masih ada di sana…” Tambahnya, mulai berjalan menuju taman diikuti Schatten dan Licht dari belakang.
Avaron, Schatten, dan Licht sampai di River Side hanya dalam beberapa menit. Sepertinya di sungai itu masih ada anak laki-laki berambut hitan yang tadi diceritakan oleh Avaron.
“Ah… Ternyata dia masih berada di sana…” Pikir Avaron, sweatdrop karena pada awalnya ia berharap agar anak laki-laki itu sudah pergi atau pulang dari sungai.
“Hooo…. Jadi itu orangnya…” Ucap Licht tiba-tiba, sembari menatap anak laki-laki berambut hitam itu.
“Hm…” Schatten hanya bergumam.
Kemudian kedua anak kembar itu menatap satu sama lain, memberikan perasaan yang tidak enak kepada Avaron yang melihatnya. Kemudian mereka terlihat tersenyum yang sepertinya merencanakan sesuatu. Dan secara tiba-tiba…..
“Hei kau!” Schatten menghampiri anak laki-laki itu, “Namamu Kaze Fujisaki bukan?” Tanyanya
Avaron yang melihat itu hanya bisa speechless, tidak tahu harus berkata apa. Sebenarnya ia ingin menghampiri Schatten dan menyeretnya kembali, tapi ia ditahan oleh Licht dan tidak hampir tidak bisa bergerak.
“Ah… Ya… Memangnya kenapa?” Anak laki-laki itu bertanya.
“Kudengar kau teman sekelas temanku itu” Schatten menunjuk Avaron yang masih ditahan oleh Licht, “Boleh minta…………………….” Schatten berbicara dengan suara yang kecil, yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua, dan sepertinya Kaze memberitahu sesuatu kepada Schatten yang akhirnya ia catat dengan handphonenya.
Perasaan Avaron menjadi semakin tidak enak , tapi mau bagaimana lagi, ia ditahan oleh Licht agar tidak bisa bergerak dan tidak tahu harus mengucapkan kata apa.
“Ok… Thanks.” Schatten berterima kasih karena sesuatu yang diberikan Kaze. Kemudian ia berjalan kembali ke tempat Avaron dan Licht.
Licht melepaskan Avaron sehingga ia bisa bergerak lagi. Tapi dengan segera Avaron bertanya kepada Schatten dengan perasaan amat sangat curiga, “Hei! Apa yang kau minta dari dia?!”
“Hanya……….” Schatten berbisik di telinga Avaron dan mengirimkan sesuatu ke Avaron dengan e-mail melalui handphonenya. “Disimpan ya…” Schatten menyarankan dengan senyum innocentnya, disertai senyum innocent Licht juga.
Sepertinya ‘sesuatu’ yang diberitahukan Schatten membuat wajah Avaron memerah lagi, tapi kali ini merah padam.
“Okay… I'm going home!” Ucap Avaron, berniat untuk kembali ke asrama di Oozora Gakuen. Tapi belum sempat ia berjalan menuju Oozora, ia melihat Kaze yang sepertinya sedari tadi menatapnya. Kaze hanya tersenyum melihat Avaron dan membuat wajah Avaron menjadi semakin merah dan Avaron pun berlari menuju Oozora, lebih tepatnya langsung menuju kamarnya di asrama.
Schatten dan Licht hanya bisa menahan tawa melihat Avaron yang bisa dibilang salah tingkah. “Maaf teman kami memang seperti itu.” Ucap Licht kepada Kaze mengenai Avaron. “Maaf… Kami pergi dulu.” Ucap Schatten. “See ya Fujisaki-san” Ucap Schatten dan Licht bersamaan, kemudian pergi dari tempat itu.
Sementara di Oozora Gaken, tepatnya di asrama lantai 3, dan lebih tepatnya di kamar Avaron dan juga kamar teman sekamarnya.
Avaron sepertinya sudah merapihkan diri dalam arti lain mandi dan sebagainya. Kemudian ia membuka pesan yang tadi dikirimkan oleh Schatten. Ia pun menghela nafas tapi menyimpan isi pesan itu.
“Hh… Schatten… Licht… You’ll pay for this!!” Pikirnya agak kesal dengan wajah yang memerah karena hal tadi. Walaupun ia sepertinya kesal, tapi ia menyimpan juga isi pesan yang ternyata adalah kontak anak bernama Kaze Fujisaki itu.
- To be continued
Little Love Story, Chapter 1 - First Meeting
Chapter 1 - First Meeting
Hari Jumat di Oozora Gakuen, lebih tepatnya saat pelajaran terakhir, yakni pelajaran Bahasa Inggris dimulai di kelas 1-B. Seorang anak perempuan berambut coklat berlari di koridor sekolah. Sepertinya ia telat masuk ke kelas. Ekspresi wajahnya terlihat tenang, tapi sebenarnya ia takut dihukum karena sudah telat masuk ke kelas.
Saat ia berlari di koridor, tanpa sadar ia telah menabrak seorang anak laki-laki. “Ah… Maaf.” Ucapnya meminta maaf kepada anak laki-laki itu karena sudah menabraknya. Anak perempuan itu kemudian langsung berlari lagi menuju kelasnya, tanpa sadar ia menjatuhkan sesuatu, handphonenya.
Anak laki-laki itu hanya bisa melihat anak perempuan yang menabraknya berlari menuju kelasnya. Ia melihat sesuatu di lantai, “Handphone ini… Sepertinya milik anak itu…” Pikirnya, mengambil dan menyimpan handphone yang dijatuhkan anak perempuan tadi, berniat mengembalikannya kalau bertemu dengannya lagi.
Kelas 1-B, pelajaran Bahasa Inggris sepertina sudah dimulai. Anak perempuan berambut coklat itu akhirnya berhenti di depan pintu kelas, keas 1-B. Terlihat dari wajah anak perempuan itu kalau ia berniat tidak masuk kelas. Walau begitu ia mengurungkan niatnya untuk membolos.
Anak itu membuka pintu kelas secara perlahan, “Sorry for being late sensei…” Ucapnya dengan perasaan agak takut mendapat hukuman dari gurunya itu. “Ah… Good ‘morning’ Kujo-kun.” Guru Bahasa Inggrisnya membalas, dengan nada sedikit ditekankan di kata ‘morning’ dan juga dengan wajah malaikatnya tapi dengan senyum iblis.
Anak perempuan berambut coklat yang dipanggil dengan nama keluarganya, yakni Kujo, melihat ekspresi wajah gurunya. Hanya ada satu orang yang bernama keluarga Kujo, yaitu seorang gadis bernama lengkap Avaron Kujo. Ia pun semakin ingin membolos pelajaran Bahasa Inggrisnya. Tapi sudah telat untuk membolos karena ia sudah masuk ke kelas. Dengan perasaan kecewa karena sudah masuk ke kelas, pun berjalan ke tempat duduknya, barisan kedua dari depan dan tepat di samping jendela.
Avaron menghela nafas, berakhir mengikuti pelajaran Bahasa Inggrisnya. “Lebih baik aku membolos saja tadi…” Pikirnya, mengeluarkan alat-alat tulisnya dan menaruhnya di atas meja. Kemudian ia mencari sesuatu di saku roknya. “Eh… Tunggu… Handphoneku..” Pikirnya cemas karena tidak bisa menemukan handphonenya di saku roknya. “Sepertinya terjatuh saat bertabrakkan dengan orang tadi.” Pikirnya lagi, dengan perasaan cemas mengenai handphonenya, Avaron mengikuti pelajaran Bahasa Inggris itu, berharap pelajaran tersebut cepat selesai, tapi sepertinya 120 menit atau 2 jam itu terasa lama sekali untuk Avaron.
2 jam berlalu, Avaron sepertinya sudah hampir tidak bernyawa karena mengikuti pelajaran Bahasa Inggris dengan gurunya yang bisa dibilang ‘Iblis dalam wujud Malaikat’ dan juga dengan perasaan cemas dengan handphonenya yang hilang.
“Akhirnya… Selesai juga…” Gumamnya, memasukkan alat-alat tulisnya ke dalam tas, dan bergegas keluar dari kelas dengan niat mencari orang yang ditabraknya tadi karena ia menduga orang yang ditabraknya pasti mengambil dan menyimpan handphonenya. “Tunggu…” Avaron berhenti di koridor, “Ciri-ciri orang yang tadi kutabrak seperti apa ya…?” Pikirnya, tidak ingat cirri-ciri orang yang tadi ditabraknya. “Bagaimana aku bisa mencari orang itu kalau aku sendiri tidak ingat cirri-cirinya??!” Pikir Avaron, ia pun menjadi semakin cemas. Avaron akhirnya memutuskan untuk pergi ke kamarnya di asrama.
Sesampainya di kamarnya, Avaron melihat ada teman sekamarnya yang berpenampilan seperti laki-laki. “…..” Ia diam saja, tidak menyapa teman sekamarnya itu. Avaron hanya menaruh tasnya dan mengganti seragam yang dipakainya dengan pakaian untuk pergi jalan-jalan. Ia berniat untuk keluar lagi, hendak mencari orang yang ditabraknya tadi, tapi dimana? Akhirnya Avaron memutuskan untuk mencari udara segar dahulu di dekat sungai, berharap bertemu dengan orang tadi di jalan.
Avaron pergi ke sungai untuk mencari udara segar, ia masih berharap bertemu dengan orang yang ditabraknya tadi di jalan. Tapi sepertinya ia tidak bertemu dengan orangnya. Bagaimana mau bertemu, cirri-ciri orangnya saja ia tidak tahu. Benar-benar tidak ada harapan.
River side, sungai mengalir dengan tenang, dan sepertinya tempat itu sangat tenang. Avaron pada akhirnya tidak bertemu dengan orang yang ditabraknya tadi. Ia menghela nafas, berjalan ke pinggir sungai, melihat ke arah sungai itu. “Pada akhirnya aku tidak bertemu dengan orang tadi… Bagaimana mau bertemu? Ciri-ciri orangnya saja aku tidak tahu…” Pikirnya sedikit kecewa.
Sementara di sisi lain, sepertinya seseorang bari saja sampai di sungai itu. Seorang laki-laki berambut hitam, ia memegang sesuatu di tangan kanannya, seperti sebuah handphone. Laki-laki itu melihat kea rah Avaron, seperti pernah melihat Avaron sebelumnya. “Ah… Bukankah dia…?” Gumamnya, melihat handphone yang dipegangnya.
Anak laki-laki itu berjalan mendekati Avaron. “Mm… Maaf…” Ucapnya secara tiba-tiba di belakang Avaron.
Avaron yang mendengar itu langsung kaget karena ada suara yang sepertinya memanggilnya dari belakang. Ia otomatis berbalik ke belakang, melihat siapa yang memanggilnya. Tapi karena sedikit tidak hati-hati, ia hampir jatuh ke sungai. Anak laki-laki itu langsung memegang tangan Avaron dengan tangan kirinya dan menarik Avaron agar ia tidak jatuh ke sungai. Tapi sepertinya aksi anal laki-laki itu berakhir menjadi seperti sebuah pelukan.
Wajah Avaron langsung memerah. Ia lalu mendorong anak laki-laki itu. “Em… T-terima kasih…” Ucapnya, berterima kasih dengan malu dan juga dengan wajah yang masih memerah, tidak berani melihat wajah orang yang sudah menolongnya itu.
“Ya… Sama-sama.” Anak laki-laki itu membalas dengan singkat. Kemudian ia memperlihatkan handphone yang dipegangnya, “Apa ini milikmu?” Tanyanya.
Avaron melihat handphone yang ada di tangan anak laki-laki itu. Ia terkejut dengan handphone yang ia lihat, “Ah… Itu… Handphoneku!!” Ucapnya berteriak, langsung mengambil handphonenya yang tadi ada di tangan anak laki-laki itu. “Um… Terima kasih…..” Ucapnya lagi, berterima kasih.
“Sama-sama.” Anak laki-laki itu membalas dengan singkat, lagi. “Sepertinya aku pernah melihatmu di kelas.”
“Ah… Ya… Sepertinya kita sekelas.” Avaron membalas, menyimpan handphonenya di saku celananya. “Tidak baik kalau tidak mengetahui nama teman sekelas.” Ucap Avaron dengan senyum. “Namaku Avaron, Avaron Kujo.” Tambahnya, memberitahukan namanya.
“Namaku Kaze, Kaze Fujisaki. Panggil saja Kaze.” Anak laki-laki berambut hitam itu membalas. Kaze Fujisaki, jadi itu nama orang yang tadi Avaron tabrak saat berlari ke kelas karena sudah terlambat masuk kelas.
“Ah… Kaze-kun.” Gumam Avaron dengan senyumnya. “Maaf sudah menabrakmu tadi…” Avaron meminta maaf atas kejadian tadi di koridor.
“Ya… Tidak apa-apa.” Kaze membalas dengan singkat.
“Mungkin… Kita bisa menjadi teman.” Ucap Avaron tiba-tiba. Baru kali ini ia berkata seperti itu kepada orang lain, apalagi orang yang baru saja dikenalnya.
“Teman? Boleh saja.” Kaze membalas dengan singkat, menerima tawaran Avaron untuk menjadi teman. “Atau mungkin bisa menjadi lebih dari sekadar teman…” Ucapnya pelan, hampir tidak bisa didengar orang lain.
“He? Apa kau bilang? Aku tidak dengar.” Avaron bertanya dengan nada dan ekspresi wajah yang polos.
Kaze yang melihat itu langsung reflex berkata, “Ah… T-tidak… Bukan apa-apa..” Agar Avaron tidak curiga dengan apa yang baru saja ia katakan.
“Oh… Kalau begitu… Aku pergi dulu ya. See ya Kaze-kun” Avaron pergi dari sungai, dengan wajah yang kelihatannya agak memerah karena kejadian yang baru saja terjadi saat ia hampir jatuh di sungai itu.
“…..” Kaze tidak sempat membalas ucapan Avaron karena Avaron langsung pergi begitu saja. Ia menghela nafas, “Aneh… Tapi menarik juga.” Pikirnya.
- To Be Continued
Hari Jumat di Oozora Gakuen, lebih tepatnya saat pelajaran terakhir, yakni pelajaran Bahasa Inggris dimulai di kelas 1-B. Seorang anak perempuan berambut coklat berlari di koridor sekolah. Sepertinya ia telat masuk ke kelas. Ekspresi wajahnya terlihat tenang, tapi sebenarnya ia takut dihukum karena sudah telat masuk ke kelas.
Saat ia berlari di koridor, tanpa sadar ia telah menabrak seorang anak laki-laki. “Ah… Maaf.” Ucapnya meminta maaf kepada anak laki-laki itu karena sudah menabraknya. Anak perempuan itu kemudian langsung berlari lagi menuju kelasnya, tanpa sadar ia menjatuhkan sesuatu, handphonenya.
Anak laki-laki itu hanya bisa melihat anak perempuan yang menabraknya berlari menuju kelasnya. Ia melihat sesuatu di lantai, “Handphone ini… Sepertinya milik anak itu…” Pikirnya, mengambil dan menyimpan handphone yang dijatuhkan anak perempuan tadi, berniat mengembalikannya kalau bertemu dengannya lagi.
Kelas 1-B, pelajaran Bahasa Inggris sepertina sudah dimulai. Anak perempuan berambut coklat itu akhirnya berhenti di depan pintu kelas, keas 1-B. Terlihat dari wajah anak perempuan itu kalau ia berniat tidak masuk kelas. Walau begitu ia mengurungkan niatnya untuk membolos.
Anak itu membuka pintu kelas secara perlahan, “Sorry for being late sensei…” Ucapnya dengan perasaan agak takut mendapat hukuman dari gurunya itu. “Ah… Good ‘morning’ Kujo-kun.” Guru Bahasa Inggrisnya membalas, dengan nada sedikit ditekankan di kata ‘morning’ dan juga dengan wajah malaikatnya tapi dengan senyum iblis.
Anak perempuan berambut coklat yang dipanggil dengan nama keluarganya, yakni Kujo, melihat ekspresi wajah gurunya. Hanya ada satu orang yang bernama keluarga Kujo, yaitu seorang gadis bernama lengkap Avaron Kujo. Ia pun semakin ingin membolos pelajaran Bahasa Inggrisnya. Tapi sudah telat untuk membolos karena ia sudah masuk ke kelas. Dengan perasaan kecewa karena sudah masuk ke kelas, pun berjalan ke tempat duduknya, barisan kedua dari depan dan tepat di samping jendela.
Avaron menghela nafas, berakhir mengikuti pelajaran Bahasa Inggrisnya. “Lebih baik aku membolos saja tadi…” Pikirnya, mengeluarkan alat-alat tulisnya dan menaruhnya di atas meja. Kemudian ia mencari sesuatu di saku roknya. “Eh… Tunggu… Handphoneku..” Pikirnya cemas karena tidak bisa menemukan handphonenya di saku roknya. “Sepertinya terjatuh saat bertabrakkan dengan orang tadi.” Pikirnya lagi, dengan perasaan cemas mengenai handphonenya, Avaron mengikuti pelajaran Bahasa Inggris itu, berharap pelajaran tersebut cepat selesai, tapi sepertinya 120 menit atau 2 jam itu terasa lama sekali untuk Avaron.
2 jam berlalu, Avaron sepertinya sudah hampir tidak bernyawa karena mengikuti pelajaran Bahasa Inggris dengan gurunya yang bisa dibilang ‘Iblis dalam wujud Malaikat’ dan juga dengan perasaan cemas dengan handphonenya yang hilang.
“Akhirnya… Selesai juga…” Gumamnya, memasukkan alat-alat tulisnya ke dalam tas, dan bergegas keluar dari kelas dengan niat mencari orang yang ditabraknya tadi karena ia menduga orang yang ditabraknya pasti mengambil dan menyimpan handphonenya. “Tunggu…” Avaron berhenti di koridor, “Ciri-ciri orang yang tadi kutabrak seperti apa ya…?” Pikirnya, tidak ingat cirri-ciri orang yang tadi ditabraknya. “Bagaimana aku bisa mencari orang itu kalau aku sendiri tidak ingat cirri-cirinya??!” Pikir Avaron, ia pun menjadi semakin cemas. Avaron akhirnya memutuskan untuk pergi ke kamarnya di asrama.
Sesampainya di kamarnya, Avaron melihat ada teman sekamarnya yang berpenampilan seperti laki-laki. “…..” Ia diam saja, tidak menyapa teman sekamarnya itu. Avaron hanya menaruh tasnya dan mengganti seragam yang dipakainya dengan pakaian untuk pergi jalan-jalan. Ia berniat untuk keluar lagi, hendak mencari orang yang ditabraknya tadi, tapi dimana? Akhirnya Avaron memutuskan untuk mencari udara segar dahulu di dekat sungai, berharap bertemu dengan orang tadi di jalan.
Avaron pergi ke sungai untuk mencari udara segar, ia masih berharap bertemu dengan orang yang ditabraknya tadi di jalan. Tapi sepertinya ia tidak bertemu dengan orangnya. Bagaimana mau bertemu, cirri-ciri orangnya saja ia tidak tahu. Benar-benar tidak ada harapan.
River side, sungai mengalir dengan tenang, dan sepertinya tempat itu sangat tenang. Avaron pada akhirnya tidak bertemu dengan orang yang ditabraknya tadi. Ia menghela nafas, berjalan ke pinggir sungai, melihat ke arah sungai itu. “Pada akhirnya aku tidak bertemu dengan orang tadi… Bagaimana mau bertemu? Ciri-ciri orangnya saja aku tidak tahu…” Pikirnya sedikit kecewa.
Sementara di sisi lain, sepertinya seseorang bari saja sampai di sungai itu. Seorang laki-laki berambut hitam, ia memegang sesuatu di tangan kanannya, seperti sebuah handphone. Laki-laki itu melihat kea rah Avaron, seperti pernah melihat Avaron sebelumnya. “Ah… Bukankah dia…?” Gumamnya, melihat handphone yang dipegangnya.
Anak laki-laki itu berjalan mendekati Avaron. “Mm… Maaf…” Ucapnya secara tiba-tiba di belakang Avaron.
Avaron yang mendengar itu langsung kaget karena ada suara yang sepertinya memanggilnya dari belakang. Ia otomatis berbalik ke belakang, melihat siapa yang memanggilnya. Tapi karena sedikit tidak hati-hati, ia hampir jatuh ke sungai. Anak laki-laki itu langsung memegang tangan Avaron dengan tangan kirinya dan menarik Avaron agar ia tidak jatuh ke sungai. Tapi sepertinya aksi anal laki-laki itu berakhir menjadi seperti sebuah pelukan.
Wajah Avaron langsung memerah. Ia lalu mendorong anak laki-laki itu. “Em… T-terima kasih…” Ucapnya, berterima kasih dengan malu dan juga dengan wajah yang masih memerah, tidak berani melihat wajah orang yang sudah menolongnya itu.
“Ya… Sama-sama.” Anak laki-laki itu membalas dengan singkat. Kemudian ia memperlihatkan handphone yang dipegangnya, “Apa ini milikmu?” Tanyanya.
Avaron melihat handphone yang ada di tangan anak laki-laki itu. Ia terkejut dengan handphone yang ia lihat, “Ah… Itu… Handphoneku!!” Ucapnya berteriak, langsung mengambil handphonenya yang tadi ada di tangan anak laki-laki itu. “Um… Terima kasih…..” Ucapnya lagi, berterima kasih.
“Sama-sama.” Anak laki-laki itu membalas dengan singkat, lagi. “Sepertinya aku pernah melihatmu di kelas.”
“Ah… Ya… Sepertinya kita sekelas.” Avaron membalas, menyimpan handphonenya di saku celananya. “Tidak baik kalau tidak mengetahui nama teman sekelas.” Ucap Avaron dengan senyum. “Namaku Avaron, Avaron Kujo.” Tambahnya, memberitahukan namanya.
“Namaku Kaze, Kaze Fujisaki. Panggil saja Kaze.” Anak laki-laki berambut hitam itu membalas. Kaze Fujisaki, jadi itu nama orang yang tadi Avaron tabrak saat berlari ke kelas karena sudah terlambat masuk kelas.
“Ah… Kaze-kun.” Gumam Avaron dengan senyumnya. “Maaf sudah menabrakmu tadi…” Avaron meminta maaf atas kejadian tadi di koridor.
“Ya… Tidak apa-apa.” Kaze membalas dengan singkat.
“Mungkin… Kita bisa menjadi teman.” Ucap Avaron tiba-tiba. Baru kali ini ia berkata seperti itu kepada orang lain, apalagi orang yang baru saja dikenalnya.
“Teman? Boleh saja.” Kaze membalas dengan singkat, menerima tawaran Avaron untuk menjadi teman. “Atau mungkin bisa menjadi lebih dari sekadar teman…” Ucapnya pelan, hampir tidak bisa didengar orang lain.
“He? Apa kau bilang? Aku tidak dengar.” Avaron bertanya dengan nada dan ekspresi wajah yang polos.
Kaze yang melihat itu langsung reflex berkata, “Ah… T-tidak… Bukan apa-apa..” Agar Avaron tidak curiga dengan apa yang baru saja ia katakan.
“Oh… Kalau begitu… Aku pergi dulu ya. See ya Kaze-kun” Avaron pergi dari sungai, dengan wajah yang kelihatannya agak memerah karena kejadian yang baru saja terjadi saat ia hampir jatuh di sungai itu.
“…..” Kaze tidak sempat membalas ucapan Avaron karena Avaron langsung pergi begitu saja. Ia menghela nafas, “Aneh… Tapi menarik juga.” Pikirnya.
- To Be Continued
Pages
Ask, Comment, or Chat Box
Digital Clock
Followers
Labels
- Little Love Story (3)
- One Shot Stories (1)
- Quotes (8)
- Signatures and Avatars (7)
About Me
- Rikku Shaolee
- Jakarta, Indonesia
- Okay~ i'm an ordinary human~ but sometimes become insane at school. I'm a fans of Burupya from 07-Ghost.. A cute little fyulong dragon~ XD Oh well.. Anyway~ enjoy your stay in my blog~ don't forget to leave a comment~ ^.^